31.9 C
Jambi City
Jumat, 4 Desember 2020
Beranda blog

PSI Bungo “Bongkar” Lokasi Pembakaran Emas PETI dan PSI Sudah Lapor Polisi

BUNGO,JCN – Ditengah giatnya Kepolisian Polres Bungo memberantas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Masih saja banyak pengusaha dompeng yang membandel bahkan berani terang-terangan melakukan pembakaran emas hasil PETI dimuka umum.

Seperti yang berhasil dibongkar oleh Tim Ormas Pejuang Siliwangi Indonesia (PSI) Bungo. Ormas yang dikomandoi oleh Jahari alias Ari Gondrong ini selain membongkar lokasi pembakaran Emas PETI juga sudah langsung melaporkan temuan tersebut ke anggota Polisi Polres Bungo.

“Saat ini kita tinggal menunggu tindakan cepat Polisi. Jika butuh tenaga Tim PSI Bungo, Kami siap menunjukan dimana lokasi dan siapa pemilik alias pengusaha penampung emas PETI tersebut,”Tegas Ari Gondrong.

Pada Tim JCN, Anggota PSI Bungo menceritakan ada beberapa titik lokasi pembakaran emas PETI tersebut dan pengusaha yang menadah alias menampung emas PETI itu.

“Didaerah Rantel Kecamatan Pelepat ada 6 titik pembakaran Emas Ilegal, di Dusun Padang Pelangeh dan Dusun Danau ada 7 titik dan semuanya itu dilakukan dimuka umum,”terang Ari yang didampingi Tim PSI Bungo lainnya.

Ari juga menantang pihak Kepolisian Polres Bungo yang ingin membongkar dan menangkap penadah alias pengusaha yang menampung emas PETI. PSI Bungo siap mengantar dan ikut membantu Polisi memberantas otak PETI di Bungo.

“Pemilik alias penadah alias pengusaha PETi itu inisialnya A dan D. Jika polisi ingin mrnangkap dan membongkar lokasi penampungan emas PETI itu, kami PSI Bungo siap membantu,”tantang Ari yang ingin Pembarantasan PETI bukan hanya diklangan bawah saja tapi para pengusaha besar alias penadahnya juga harus ditangkap.

PETI di Bungo sudah sangat meresahkan, tapi yang ditangkap dan dirazia hanya para pekerja tambang, sementara para pengusaha yang memberi modal serta berani menampung hasil PETI tidak pernah tersentuh apalagi ditangkap Polisi. Ini saatnya PSI Bungo bersikap untuk memberantas dan menangkap cukong-cukong PETI di Bungo.(jhon)

Ketua Panwascam Adi Kurnia “Melantik” Puluhan Pengawas TPS

BUNGO,JCN – Bertempat digedung sebaguna Bukit Sari, Jujuhan Ilir, Bungo, minggu (15/11/2020), Ketua Panitia Pengawas Kecamatan (Panwacam) Jujuhan Ilir, Adi Kurnia SPd, melantik puluhan pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ada sedikitnya 26 Pengawas TPS yang dilantik dan dipercaya untuk menjaga TPS yang ada di di 7 desa di Kecamatan Jujuhan ilir, Bungo.

Dalam sambutannya, Ketua Panwacam Kecamatan Jujuhan ilir, Adi Kurnia berpesan pada Pengawas TPS yang baru dilantik, agar menjaga Integeritas sebagai Pengawas TPS saat pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil serta Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Bungo yang akan digelar pada 9 Desember 2020 mendatang.

“Kami berpesan agar pengawas TPS yang dilantik saat ini bertanggungjawab pada tugas yang di  amanahkan oleh Bawaslu berdasarkan UU Pemilu No. 7 Tahun 2017,”Tegas Adi pada 26 Pengawas TPS yang baru dilantik.

Adi juga mengingatkan, dalam pelaksanaan pencoblosan nanti, para pengawas TPS juga memantau dan menjaga jalannya Protokol Kesehatan disemua TPS yang ada, mulai dari menggunakan masker, menjaga jarak  serta mencuci tangan pakai sabun, tujuannya agar terhindar dari Covid -19 serta memutus rantau penyebaran COVID 19.

Acara Pelantikan PTPS dihadiri Ketua Bawaslu Kab. Bungo Camat ,Desa Serta Seketariat Panwascam ,PPK ,PKD seKecamatan jujuhan Ilir.(jhon)

Makam Keturunan Kerajaan Mataram “Cikal Bakal Pembentukan Dusun Lubuk Landai Kabupaten Bungo”

Oleh : Yulia Novita MJ Simbolon

Dusun Lubuk Landai salah satu dusun tertua di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Didusun ini terdapat sebuah Makam dari Sri Pangeran Mangkubowono yang berasal dari kerajaan Mataram. Pakubowono II memiliki seorang anak yang bernama Mangkubowono yang saat itu merupakan remaja yang sangat pembangkang. Pada suatu ketika Mangkubowono bermain gasing dengan temannya dan terjadilah pertikaian dan Mangkubowono melukai kepala temannya. Ibunya pun sangat marah kepada Mangkubumi, sampai mengeluarkan kata-kata yang menyangkut pamannya Mangkubumi. Ibunya mengatakan bahwa Mangkubumi adalah orang yang bagak(hebat), memberontak pemerintahan kompeni Belanda sehingga terjadi pertikaian dengan Pakubowno II dan menyebabkan Mangkubumi pergi kepedalaman Jambi karna pertikaian tersebut tidak mungkin dapat diselesaikan.
Karena ungkapan ibunya tersebut, Mangkubowono mengakui kepahlawan Mangkubumi dan berkeinginan kuat mengikuti pamannya ke tanah pedalaman Jambi, dan Mangkubowono pun meminta izin kepada ibunya untuk menyusul pamannya ke Tanah Jambi. Pada tahun 1749 Mangkubowono dengan adik perempuan kecilnya dan beberapa bawahannya pun pergi mengikuti jejak pamannya Mangkubumi yang pada saat itu memimpin kekuasaan di Tanah Sepenggal pedalaman Jambi (sekarang merupakan kecamatan Tanah Sepenggal Lintas). Rombonga Mangkubowono terus berlayar sampai di Ujung Jabung dan mereka pun beristirahat selama tujuh hari. Kemudian mereka bertemu dengan Mbah Orang Kayo Hitam, dan bertanya tentang sampan dari mataram yang lewat disana. Beliau mengatakan bahwa rombongan Mangkubumi berangkat ke hulu sungai menggunakan sampan yang dibeli dari mbah tersebut dikarenakan sampan yang awalnya digunakan terdampar dan tertimbun pasir. Kemudian rombongan Mangkubowono pun melanjutkan perjalanan mereka dan sampailah di Kampung Gedang seberang Jambi, disini mereka beristirahat dan bermalam kembali. Pada malam itu adik perempuan Mangkubowono ini menangis dan tidak mau melanjutkan perjalanan kembali. Adik perempuannya pun ditinggal dan diberikan Caping Sang Sko sebuah benda yang diberikan oleh ibunya yang merupakan warisan secara turun temurun yang diserahkan kepada pihak perempuan.
Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke hulu sungai yang menghabiskan beberapa hari dan akhirnya sampai di Banjar Bugis. Dikampung tersebut Mangkubowono melihat suatu rumah yang ada jemuran baju berukuran seimbang sama gedang ( pakaian paksa) yang merupakan tanda keberadaan pangeran Mangkubumi. Mangkubowono berserta rombongannya masuk ke dalam rumah dan memperkenalkan diri sebagai Mangkubowono putra dari Pakubowono ke II Surakarta. Mangkubumi pun terkejut dengan sebutan tersebut dan meminta tanda bukti khas dari Mataram. Mangkubowono tidak bisa menunjukkan bukti dikarenakan telah diberikannya kepada adik perempuan yang ditinggalnya. Mangkubowono hanya bisa menunjukkan bukti perahu brukir rapi dari Mataram, tetapi bukti tersebut tidak dapat diterima oleh pangeran Mangkubumi. Karena tidak mendapat pengakuan dari pamannya, Mangkubowono pun melanjutkan perjalanannya hingga mereka sampai di Tanah Pilih ( sekarang Lubuk Landai ) ditempat ini mereka beristirahat dan bermalam. Setelah itu, Mangkubowono pun memerintahkan kepada rombongannya untuk menebas dan membersihkan tempat yang mereka jadikan tempat istirahat tersebut. Lalu mereka mulai menabur bibit tanaman yang diberi di Kampung Gedang. Beberapa hari kemudian bibit tanaman ersebut tumbuh subur dan merata dengan baik. Dengan demikian Mangkubowono dan rombongannya pun bersemangat untuk memperluas tanaman bibit-bibit tersebut. Mereka juga mendirikan beberapa pondok untuk tempat berlindung dari serangan musuh dan binatang buas.
Pada suatu waktu Mangkubumi datang secara mendadak ke tempat rombongan Mangkubowono tersebut, karena tempat itu merupakan perkebunan kapas kepunyaan Mangkubumi. Dilihatnya lah ladang kapasnya telah musnah dan di ganti dengan tanaman lain, hal ini menyebabkan Mangkubumi sangat marah kepada rombongan Mangkubowono. Kemudian ia pun mengusir rombongan Mangkubowono dari tempat tersebut, akan tetapi rombongan Mangkubowono hanya bisa diam dan membiarkan pamannya meluapkan kemarahannya. Mereka juga tidak mau meninggalkan tempat tersebut karena sesuai dengan tuntunan dan pengarahan dari orang tuanya di Surakrta Mataram, akhirnya Mangkubumi kembali balik ke Kampung Banjar Bugis. Mangkubumi telah berkali-kali mengutus bawahannya untuk mengusir rombongan Mangkubowono dari tanah tersebut. Tetapi ternyata Mangkubowono dan rombongannya telah mendirikan sebelas rumah dan membuka lahan di Tanh Pilih Lebak Landai selama lima tahun. Maka dari itu Mangkubumi pun ingin menyelesaikan permasalahan tersebut secara berunding dan mengadakan sidang yang dipimpin oleh Wan Omar Tuo dari Kampung Gedang Tanjung Pasir. Hasil sidang tersebut menyatakan bahwa Mangkubowono bersalah terhadapa perlakuannya sebagai orang pendatang, sehingga ia dikenakan denda dan itu disetujui oleh Mangkubumi dan Mangkubowono.
Setelah itu Mangkubowono meminta izin untuk kembali ke Mataram dan berjanji akan membayar denda yang telah ditentukan dan Mangkubumi pun memberikan izin karena dia pun berharap Mangkubowono membawa bukti bahwa dia merupakan keponakanya. Mangkubowono bersama beberapa bawahannya pun berangkat menuju Mataram dengan sampannya. Setelah sampai di Mataram, Mangkubowono pun menceritakan semua hasil dari perjalanan yang dia tempuh untuk menemui pamannya Mangkubumi. Dan juga ia menjelaskan bahwa ia akan melakukan peresmian sebelas rumah di Tanah Pilih dan mengundang Ketua Kesenian Mataram yang merupakan paman nya( dari ibu) untuk menghadiri acara tersebut. Ibunya pun menyetujui permintaan Mangkubowono dan Ketua Kesenian pun menyambut baik hal tersebut, lalu mereka pun berangkat bersama dari Mataram ke Tanah Pilih menggunakkan sampan. Ketika sudah sampai di Tanah Pilih, Mangkubumi pun langsung berkunjung menjumpai Mangkubowono beserta rombongan kesenian Mataram. Dari sinilah Mangkubumi percaya bahwa Mangkubowono merupakan keponakannya dari saudaranya Pakubowono ke II. Dalam pertemuan ini Mangkubumi dan Ketua Kesenian merumuskan masalah peresmian negeri yang bernama Lebak Landai dan pemakaian sebelas rumah. Kemudian mereka juga menjodohkan Mangkubowono dengan Putri Srimenganti Dayang Sari Ratumas Intan ( Putri Sripangeran Mangkubumi Tanah Periuk).
Pada tanggal 11 Maret 1755, pangeran Mangkubumi meresmikan tiga serangkain sukses yaitu, pertama peresmian Dusun yang bernama Lebak Landa, kedua peresmian rumah sebelas menurut ketentuan rumah ini diberi nama Rumah Adat Balembago juga dikatakan rumah nan Batanganai, ketiga peresmian pernikahan Mangkubowono dengan Putri Srimenganti Dayang Sari Ratumas Intan yang berlangsung di Rumah Adat Gedang. Selama tinggal di Lubuk Landai pasangan ini diberikan keturunan lima anak perempuan. Mangkubowono wafat pada tahun 1787 dan di makamkan di Kampung Betung Dusun Lubuk Landai dekat Sungai Batang Tebo Jembatan perlintasan Lubuk Landai dengan pasar Lubuk Landai. Di makam tersebut juga ada Kuburan istrinya Putri Srimenganti Dayang Sari Ratumas Intan.
Sumber:
Wawancara Datuk Rio Lubuk Landai Anhari Muhammad (2020)
Wawancara Ishak bin Aji Abu Syukur selaku orang yang dipercaya dalam meneruskan sejarah dari makam secara turun temurun (2020).

IKABSU Bungo-Tebo “Bulatkan Tekad Dukung CE-Ratu”

Putra-Putri Terbaik Jambi Yang Miliki Visi Misi Terbaik

BUNGO,JCN – Perhelatan Akbar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Jambi tinggal menghitung hari. Para calon kandidat Gubernur Jambi sudah mulai mempromosikan diri ketengah masyarakat, mulai dari Tanjung Jabung Barat hingga Kota Sungai Penuh.

Salah satu kandidat calon yang dinilai Terbaik dari yang baik yakni Drs H. Cek Endra yang berpasangan dengan Hj Ratu Munawarroh Zulkifli Nurdin (CE-Ratu), mulai banyak dilirik masyarakat Jambi terkhusus masyarakat Sumatra Utara yang ada di Provinsi Jambi.

Ikatan Keluarga Besar Sumatra Utara (IKABSU) Kabupaten Bungo-Tebo, resmi menyatakan dukungan dan menjatuhkan pilihan pada pasangan CE-Ratu. Hal ini ditegaskan secara gamblang oleh Ketua IKABSU Bungo-Tebo, G. Gultom.

Kepada Jambi Crime News, G. Gultom menegaskan, bahwa dari hasil rapat dan aspirasi masyarakat Sumatra Utara yang tinggal di Bungo-Tebo yang tergabung dalam IKABSU, dari calon kandidat putra Jambi yang baik, IKABSU memilih kandidat calon yang terbaik yakni CE-Ratu.

“Hasil rapat dan aspirasi warga IKABSU Bungo-Tebo, kami yang jumlahnya lebih kurang 17 ribu jiwa ini siap memenangkan dan menggiring pasangan CE-Ratu menjadi Gubernur Jambi 2020-2024,”tegas G. Gultom yang disetujui oleh anggota IKABSU lainnya.

Pasangan CE-Ratu ini dinilai sangat dekat dengan warga masyarakat khususnya warga IKABSU Bungo-Tebo. Selain itu Visi-Misi yang disampaikan pasangan ini sangat mewakili aspirasi dan kebutuhan masyarakat.

“Dari yang baik kami memilih yang terbaik dan seluruh kandidat calon adalah baik, namun CE-Ratu yang terbaik. Untuk visi dan misi, calon kandidat lain baik, namun visi misi CE-Ratu yang terbaik untuk kami masyarakat IKABSU,”Ujar G.Gultom yang mewakili aspirasi masyarakat Sumatra Utara di Bungo Tebo.

IKABSU Bungo Tebo yang jumlahnya 17 ribu jiwa ini bertekad akan menghasilkan suara untuk CE-Ratu sebesar 7500 suara.

Sementara itu, ditempat terpisah Fangaro Harefa SH, direktur Waster L-KPK Provinsi Jambi yang juga Ketua Tim Pemenangan CE-Ratu, menegaskan telah menyusun barisan untuk Tim Pemenangan CE-Ratu Khusus di Bungo dan Tebo.

“Tim Pemenangan CE-Ratu di Bungo Tebo siap dan akan solid mendukung dan memenangkan mantan Bupati Sarolangun dan Istri mantan Gubernur Jambi terhebat Zulkifli Nurdin untuk memimpin Jambi 2020-2024,”tegas Fangaro Harefa dan dibenarkan oleh dewan penasehat H.Samsul Hudaya.(Tim)

Aksi Ormas PSI Bungo Ini Patut Diacung Jempol dan Dicontoh !!!

BUNGO,JCN – Organisasi Masyarakat (Ormas) yang satu ini memang beda dengan kebanyakan Ormas lainnya. Bentuk aksi dan kepedulian ormas ini memang patut diacungi jempol bahkan patut dicontoh oleh Ormas lainnya. Ormas Pejuang Siliwangi Indonesia (PSI) Kabupaten Bungo, bukan hanya bergerak dalam aksi sosial seperti memberikan bantuan sembako bagi yang membutuhkan, tapi Ormas yang dikomandoi oleh Jahari alias Ari Gondrong ini juga melakukan aksi peduli lain yakni melakukan penimbunan jalan berlobang yang terdapat dikabupaten Bungo.

Kepada Jambi Crime News (JCN) Ari Gondrong bersama dengan personil PSI Bungo mengatakan, aksi timbun jalan berlobang ini mereka lakukan, karena kepedulian PSI Bungo terhadap infrastruktur jalan yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. PSI Bungo bersama masyarakat sekitar jalan berlobang, bergotong royong melakukan penimbunan dengan tanah liat yang sudah disiapkan oleh Tim PSI Bungo.

Aksi sosial berupa penimbunan jalan ini baru sepekan belakangan ini dilakukan oleh PSI Bungo, Ketua PSI Bungo, Ari Gondrong menerima masukan dari anggota PSI Kecamatan yang mengeluhkan banyaknya jalan menuju kedesa mereka yang berlobang, bahkan sudah banyak yang makan korban.

“Dari keluhan dan informasi tersebut, kami langsung bergerak membagi kelompok kerja, ada yang bertugas mencari tanah untuk timbunan dan ada yang bertugas untuk menggerakan anggota PSI dan masyarakat untuk bergotong royong menimbun jalan-jalan berlobang tersebut. Aksi ini kami lakukan untuk kebutuhan masyarakat Bungo,”Ungkap Ari Gondrong.

Sementara itu, Datuk Rio Dwi Karya Bhakti, Supriyanto yang dusun mereka mendapat bantuan penimbunan jalan dari PSI Bungo merasa sangat berterimakasih, berkat penimbunan jalan berlobang tersebut, kini warga DKB tidak lagi terganggu dijalan, dan kecelakaan dijalan berlobang juga tidak ada lagi,”Ungkap Supriyanto sembari Berterima Kasih pada Personil PSI Bungo. (Tim)

Alat Bukti dan Daluarsa Tuntutan Pidana

Catatan : Kamsul Hasan
Jakarta : Masih terkait FGD Kehumasan dan Media di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), dengan moderator Azhmy F Mahyddin, Humas harus mampu melakukan identifikasi media untuk dijadikan alat bukti.
Pertama, seperti sering saya ungkap soal status hukum media. Alat bukti itu dikatakan produk jurnalistik apabila disiarkan perusahaan pers Indonesia, sesuai UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.
Belakangan ini ada anomali, media berbadan hukum perusahaan pers namun membuat disclaimer. Artinya kanal pada media itu tidak diakui sebagai produk jurnalistik, tetapi dinyatakan sebagai media sosial.
Hal ini menyebabkan sengketa konten pemberitaan tidak diselesaikan dengan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, karena penanggung jawab tidak mau bertanggung jawab atas opini itu.
Akibatnya sengketa pemberitaan itu diselesaikan dengan KUHP kemudian diperberat dengan UU Informasi Transaksi Elektronik atau UU ITE. Penerapan UU ITE yang ancamannya rata-rata di atas 4 (empat) tahun penjara menyebabkan daluarsa tuntutan pidananya menjadi 12 (dua belas) tahun.
Merujuk pada Pasal 78 ayat (1) ke tiga, tindak pidana yang ancamannya di atas 3 (tiga) tahun, daluarsa setelah 12 tahun atau tindak pidana pada tahun 2020 masih bisa dituntut sampai tahun 2032.
Pers Perhatikan Ini !
Berdasarkan hal tersebut perusahaan pers yang memiliki akun resmi pada media sosial harus memperhatikan hal ini ;
1. Konten / pemberitaan harus terlebih dahulu tayang pada portal beritanya, tidak boleh tayang pada media sosial dulu dengan alasan apapun.
2. Konten / pemberitaan yang dibagikan pada media sosial harus sama persis dengan isi pada portal beritanya. Tidak boleh ditambahkan pengantar untuk click bait, karena pengantar bukan produk jurnalistik, tetapi bagian dari media sosial.
Bagaimana dengan penyiaran streaming yang kini marak dan menggunakan media sosial seperti YouTube, IG dll.
1. Sepanjang dikelola perusahaan berbadan hukum pers Indonesia dan tayang pertama pada portal beritanya serta mematuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) diselesaikan dengan UU Pers
2. Bila tidak berbadan hukum pers Indonesia, apalagi langgar hak anak sebagaimana diatur Pasal 19 Jo. Pasal 97 UU SPPA diproses dengan pidana di luar UU Pers. (Kamsul Hasan)

ZA Kecewa Saat Antar Hamas-Apri Daftar ke KPU. ZA : Hanya Karena Partai, Acara Ini Tak Penting, Buang Waktu Saya

Kecewa :ZA Kecewa dan bergegas keluar dari Kantor KPU Bungo, karena dilarang masuk saat antar pasangan Hamas-Apri

BUNGO,JCN – Dilansir dari Bungonews.net, Seorang anggota DPR RI Komisi IX Dapil Jambi yang merupakan tokoh masyarakat yang dihormati di Kabupaten Bungo, H. Zulfikar Achmad (ZA) dilarang masuk saat ikut mengantarkan pasangan Hamas-Apri yang diusung Partai Demokrat. Bupati Bungo yang disegani dan menjabat dua priode ini mengaku sangat kecewa, Minggu (06/09/2020).

Kekecewaan Bapak Pembangunan Bungo ini terlihat, saat ZA langsung keluar dari Kantor KPU dan pulang menuju kendaraan pibadinya. Selama dijalan, ZA coba dibujuk oleh Tim Hamas-Apri, tapi karena terlalu kecewa, ZA tetap berlalu meninggalkan acara Pendaftaran pasangan Hamas-Apri di KPU.

“Sayo tahu undang-undang,” tegasnya di depan banyak orang.

“Sayo ngantar hanya karna partai, acara ini tidak penting, buang waktu sayo,” ungkap ZA ngomel sambil berlalu keluar meninggalkan kantor KPU.

Dalam pidato Ketua KPU Bungo, Muhammad Bisri menyebutkan, dibatasinya pengunjung atau undangan yang hadir sesuai dengan aturan yang berlaku ditengah pandemi Covid-19.

Diketahui, Kalau ZA ikut mengantar pasangan Hamas-Apri untuk mendaftar di KPU, karena ZA adalah Kader dan Petinggi Partai Demokrat, Tapi saat hendak masuk keruang KPU, salah satu staf KPU melarang ZA masuk, yang diperbolehkan masuk ke ruangan, hanya Bakal Pasangan Calon, Tim Penghubung, Ketua dan Sekretaris Partai.

Sesuai dengan PKPU Nomor 5 tahun 2020, ZA yang  datang ke kantor KPU mengenakan baju batik biru, masker biru serta topi koboy ini tidak diperkenankan masuk.(tim)

Teng!!! Calon Penantang Patahana “Siap Membawa Bungo Berbenah dan Menang”

BUNGO,JCN – Pasangan petahana alias incumbent Hamas-Apri akan bertarung dengan Pasangan Calon ( Paslon ) Bupati dan Wakil Bupati H. Sudirman Zaini–Erick Muhamad Hendrizal (SZ-EMH). Dijadwalkan, sabtu (05/09/2020) pasangan SZ-EMH yang diusung oleh Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) ini akan mendeklarasikan siap maju dan bertarung pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bungo yang akan digelar Desember 2020 mendatang.

Hal ini ditegaskan oleh Reddy Charisyan selaku Ketua Panitia Deklarasi SZ-EMH saat ditemui awak media. Reddy mengungkapkan, selain mendeklarasikan diri siap maju dan bertarung, pasangan SZ-EMH ini juga akan langsung mendaftarkan diri ke Kantor Pemilihan Umum (KPU) Bungo.

”Benar, jika tidak ada halang rintang, Besok sabtu, pasangan calon SZ-EMH Akan menggelar deklarasi, dilanjutkan dengan mendaftarkan diri ke KPU,”ungkap Reddy, jum’at kemarin (04/09/2020).

Reddy menambahkan, sesuai dengan aturan Protokol Kesehatan dimasa pandemi Corona ini, acara deklarasi SZ-EMH digelar secara sederhana tanpa melibatkan massa dalam jumlah besar. Deklarasi hanya dihadiri Partai koalisi pengusung, keluarga dan awak media, itupun harus diwajibkan menggunakan masker dan mengikuti Protokol kesehatan.

“Pasangan SZ-EMH ini Siap Membawa Bungo Untuk Berbenah Menuju Bungo Menang ditahun 2021-2024,”Tegas Reddy seraya berteriak Allahuakbar SZ-EMH Menang.(tim)

Merasa Teraniaya,,,Petinggi dan Kader Hebat Golkar Bungo “Hengkang”

Syarkoni Syam : Resmi Hengkang dari Partai Golkar Bungo

BUNGO,JCN – 22 Tahun bukanlah waktu yang singkat, untuk seorang Syarkoni Syam membesarkan Partai berlambang Pohon Beringin Rindang dikabupaten Bungo. Kini petinggi serta kader hebat Golkar Bungo itu resmi hengkang alias mengundurkan diri secara hormat dari Partai yang sudah membawanya duduk beberapa priode di gedung DPRD Bungo.

Syarkoni Syam resmi mundur dikarenakan merasa teraniaya dan terzolimi dengan kebijakan yang diambil oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Provinsi Jambi. DPD Golkar Jambi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang menetapkan Syarkoni Syam sebagai Ketua Harian Golkar Bungo masa jabatan 2020-2025.

Hal ini bertolak belakang dengan rekomendasi oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang menetapkan formatur Syarkoni Syam sebagai Sekretaris Partai Golkar Bungo periode 2020-2025. Syarkoni beranggapan DPD Golkar Jambi tidak mengakomodir formatur yang sudah dibentuk.

“Dari tahun 2015-2020, saya menjabat sebagai Sekretaris dan hasil Musda tim formatur juga menunjuk saya sebagai Sekretaris dan H. Bambang Hermanto sebagai Ketua, tapi SK yang keluar menetapkan saya sebagai Ketua Harian,”ungkap Syarkoni saat jumpa Pers yang digelar jum’at pagi (4/9/2020) di Kantor Golkar Bungo.

“Saya merasa teraniaya yang dizolimi, jika tak ada halangan, besok surat pengunduran diri saya layangkan ke DPD Golkar Provinsi Jambi,”Tegas Syarkoni sembari membuka jas kuning Golkar yang dikenakannya.(Tim)

“Divonis Celebral Palaxy” PSI Bungo Kumpulkan Donasi Untuk Ananda Azkarya

Tak Berdaya : Ananda Azkarya Terbaring Tak Berdaya

BUNGO, JCN – Ananda Azkarya Yumna Irawan saat ini hanya terbaring lemas tak berdaya di ranjang ruangan rumah sakit Raden Mataher Jambi.  Buah hati pasangan M.  Irawan dan Desti Irdana Yusuf ini divonis mengidap penyakit yang cukup berat yakni kelumpuhan pada otak atau yang dikenal dalam dunia medis Celebral Palaxy.

Derita yang dialami oleh bocah cilik nan cantik ini baru diketahui kedua orang tuanya sekitar satu tahun yang lalu,  sejak itu,  kedua orang tua ananda Azkarya rutin membawanya berobat kerumah sakit dan ananda yang baru berusia 2 tahun ini sudah sering dirawat inap di rumah sakit Bungo.

Kini bocah malang itu tak lagi mampu bergerak dan harus menjalani perawatan yang intensif di RS Raden Mataher Jambi.  Kedua orang tua Azkarya sudah tak mampu lagi membiayai pengobatan anaknya dan sangat membutuhkan bantuan biaya pengobatan untuk memulihkan kondisi anaknya.

Pejuang Siliwangi Indonesia cabang Bungo yang dikomandoi oleh Jahari alias Ari Gondrong terpanggil mengumpulkan bantuan donasi untuk meringankan beban kedua orang tua Azkarya.  PSI Bungo berjibaku dan mengajak masyarakat khususnya masyarakat Bungo untuk berdonasi.

“Kami hanya berusaha meringankan beban berat kedua orang tua Azkarya dengan cara mengetuk hati para donatur dan masyarakat Bungo untuk menyisihkan sedikit rezeki mereka demi meringankan beban berat kedua orang tua ananda Azkarya, “Ungkap Jahari lirih.

Jahari menambahkan,  jika ada yang ingin membantu ananda Azkarya bisa langsung menyalurkan bantuan melalui rekening Desti Irdana Ibu kandung Azkarya dengan nomor rekening 0755172006 bank BNI Syariah.

Ananda Azkarya saat ini terbaring tak berdaya di ruang ICU RS Raden Mataher,  Kondisinya sangat tak berdaya,  dengan selang infus ditangan,  oksigen dimulut,  alat medis dipasangan ditubuh munggilnya dan bagian kepala baru dilakukan operasi otak.

“Kami berharap keiklasan para pejabat,  pengusaha,  masyarakat Bungo dan siapa saja ikut peduli dengan derita bocah malang yang saat ini tinggal dan menetap di Dusun Teluk Kecimbung,  Kecamatan Tanah Tumbuh,  Bungo,  Jambi ini, “pungkas Jahari. (tim)